Saya Marah Sekali

Saya memiliki seorang kenalan yg suka marah-marah. Bahkan mungkin bisa saya anggap hobi krn saking seringnya. Rasanya tidak pernah saya melihat dalam kurun waktu seminggu saja beliau berhasil meredam amarahnya. Selalu ada saja yg bisa jd obyek kemarahannya.

Beberapa kali saya bhkan selalu jd org yg berusaha memadamkan api kemarahannya. Terus terang saya sendiri tidak suka marah, krn saya cukup bisa mengendalikan diri terhadap itu.

Suatu kali saya pernah ditanya, apa rahasia meredam kemarahan yg paling efektif. Dan mulailah saya bercerita ttg kisah Si Kepiting. Ya ini salah satu kisah favorit saya dan mungkin sdh ada yg tau kisah ini. Ok begini kurang lebih ceritanya.

Tahukah anda ada cara cepat utk menangkap kepiting? Caranya sederhana kok, hanya dgn sebuah bambu kecil yg ujungnya diikatkan tali dan batu. Nah begini teknisnya, carilah tempat dimana si kepiting berada kemudian ayunkan batu tersebut kearah kepiting. Dan tentu saja kepiting yg notabene hewan yg pemarah akan lgsg menggunakan capitnya utk menjepit batu dan tali itu sekencang2nya.

Aha.. Buruan sdh kita dapatkan, kini cukup angkat kepiting yg sedang murka tersebut. Dan celupkan dalam tempat berisi air panas maka si kepiting akan melepaskan capitnya dan tentu saja siap jadi santapan.

Apa moral cerita tersebut? Cerita tersebut mengajarkan kita bahwa kemarahan itu akan membawa kita ke kondisi yg lebih buruk layaknya kepiting yg dimasukkan ke air panas. Jadi masihkah kita beralasan bhwa dgn kita marah segala sesuatu jd lebih baik?

Ya… Marah itu jelek… Anda boleh marah tapi jgn keterlaluan, cukup marah sejenak lalu lepaskan dan segera cari solusi. Namun lebih baik lg tanpa perlu marah lgsg cari solusi. Karena menurut penelitian bahwa saat kita marah maka ada sekian sel dalam otak kita yg akan mati. Secara tidak lgsg kita itu membunuh diri kita sendiri secara pelan2 dgn marah.

Berikut tips yg saya lakukan saat godaan utk marah tiba. Biasanya saya akan tarik nafas panjang selama bbrp detik kemudian hembuskan perlahan sambil berucap dlm hati “Semua akan baik2 saja”. Saya lakukan itu berulang hingga tensi marah saya turun. Saat amarah sdh mulai turun segera ambil air utk cuci muka dan kemudian minum segelas air. Selepas itu saya akan segera mencari solusi utk perbaiki keadaan. Ingat kuncinya satu “Marah itu tidak akan pernah memperbaiki keadaan yang ada justru memperburuk keadaan”

Ok anda masih doyan MARAH?

#tulisan ini ditulis sambil menikmati macetnya yg keterlaluan dari Jakarta menuju Bogor…. Arggghhh… Sudahlah saya tidak jd marah.. (tulisan ini saya tulis ulang dari artikel yang pernah saya tulis di tgl 23 Juni 2015)

*silahkan mention temenmu yg doyan marah biar ga marah mulu kerjaannya..

Dari temanmu yg tidak suka marah

Kristian Praba Raditya

@YanPraditya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *